Arwino Son
Born to repair, forced to behave.

Arwino Son lahir dan besar di Bandung sebagai anak kedua dari pasangan Son Jaehoon dan Maria Lumentut. Ayahnya, Son Jaehoon, merupakan keturunan Korea bermarga Son yang datang ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan, sementara ibunya, Maria Lumentut, merupakan perempuan keturunan Manado yang juga menempuh kuliah di Bandung. Keduanya bertemu semasa kuliah, menikah, lalu memutuskan menetap di Bandung dan membangun keluarga di sana.Arwino memiliki saudara kembar bernama Ruwina Son, yang lahir lima menit lebih awal darinya. Sejak kecil, selisih lima menit tersebut menjadi bahan bercandaan sekaligus alasan Ruwina merasa memiliki hak istimewa sebagai kakak. Arwino sendiri tidak pernah menganggap serius status tersebut dan lebih sering menyebut mereka sebagai dua orang yang kebetulan keluar dari rahim yang sama dalam rentang waktu lima menit.Masa kecil Arwino banyak dihabiskan di showroom mobil bekas sekaligus bengkel kecil milik keluarganya. Usaha tersebut berada di sebuah ruko di Bandung yang juga menjadi tempat tinggal keluarga Son. Lantai bawah digunakan sebagai showroom dan bengkel, sedangkan lantai atas menjadi rumah mereka. Sejak kecil, Arwino sudah terbiasa melihat ayahnya memperbaiki mobil, memeriksa mesin, dan menangani kendaraan bekas sebelum dijual. Ketertarikannya terhadap otomotif pun muncul secara alami.Berbeda dengan anggapan orang yang mengira dirinya hanya anak bengkel, Arwino kemudian melanjutkan pendidikan ke S1 Teknik Mesin. Ia memang belajar mengenai teori dan sistem mesin secara akademis, tetapi setelah lulus ia tetap kembali ke bengkel keluarganya. Baginya, gelar sarjana tidak mengubah kenyataan bahwa pekerjaan yang paling ia nikmati adalah berdiri di samping mobil dengan tangan penuh oli.Di showroom keluarga, Arwino bertanggung jawab terutama pada bagian teknis. Ia memeriksa kondisi mesin dan kelistrikan kendaraan, melakukan perawatan, membantu menentukan kelayakan mobil sebelum dijual, serta menangani berbagai pekerjaan bengkel. Sesekali ia ikut test drive atau membantu pelanggan yang ingin mengetahui kondisi kendaraan secara langsung.Sementara itu, Ruwina yang menyelesaikan S1 Administrasi Bisnis lebih banyak menangani bagian administrasi dan operasional showroom. Pembagian tersebut membuat keduanya menjadi pasangan kerja yang cukup lengkap: Ruwina mengurus dokumen dan angka, Arwino mengurus mesin dan hal-hal yang menurutnya “kalau rusak tinggal dibenerin.”Namun kehidupan keluarga Son berubah ketika pandemi COVID-19 melanda. Maria Lumentut meninggal dunia, meninggalkan Jaehoon, Arwino, dan Ruwina. Setelah kehilangan istrinya, Jaehoon akhirnya memutuskan kembali ke Korea untuk melanjutkan hidup dan mengurus urusan keluarganya di sana. Arwino dan Ruwina memilih tetap tinggal di Bandung.Sejak saat itu, keduanya meneruskan showroom dan bengkel kecil milik orang tua mereka. Bisnis tersebut tidak pernah berubah menjadi perusahaan besar. Mereka tetap menjalankannya secara sederhana, mengandalkan pelanggan lama, rekomendasi, dan usaha mereka sendiri untuk mempertahankan tempat yang sejak kecil sudah menjadi bagian dari hidup mereka.Bagi Arwino, bengkel itu bukan sekadar pekerjaan. Tempat tersebut adalah bagian dari rumah yang ia kenal sejak kecil dan salah satu peninggalan terakhir dari kedua orang tuanya. Karena itu, meskipun ia sering mengeluh soal pelanggan, mobil rewel, atau Ruwina yang terlalu banyak mengatur, ia tetap memilih untuk mempertahankannya.Sekarang, Arwino menjalani hidup sebagai mekanik sekaligus pengelola bagian teknis showroom keluarga. Ia tinggal bersama saudara kembarnya di lantai dua ruko yang sama dengan tempat mereka bekerja. Pagi sampai sore berkutat dengan mobil, malam kembali ke rumah yang hanya berjarak satu tangga dari tempat kerjanya.Dan kalau ditanya kenapa ia tidak mencari pekerjaan di perusahaan otomotif yang lebih besar setelah lulus kuliah, jawabannya sederhana:“Ngapain? Bengkel sendiri udah ada. Yang belum ada cuma pelanggan yang nggak banyak nanya.”